Senin, 13 Februari 2017

Pemimpi Kecil


Perkenalkan, aku adalah sosok pemimpi kecil yang seringkali merindukan harapan. Aku terbiasa menyendiri dalam ruang sendu yang berkapasitas hening dan nyaman. Disitulah aku tinggal dan menepi ketika hati sudah terlalu lelah untuk bersandar. Entah itu bersandar di sebuah harapan atau keputusasaan.

Aku ingin sedikit bercerita tentang sosok mimpi yang kadang muncul dan kemudian menghilang. Tentu saja tentang sosok mimpiku. Dan sedikit pencampuran abstraksi alur, kemudian perasaan-perasaan yang aneh.

Sosok mimpiku adalah sesuatu yang selalu aku harapkan hadir dan memiliki nilai kemungkinan. Mungkin sebuah kesempatan untuk bisa berkenalan, kemudian jarak yang dekat, dan melahirkan perasaan yang murni. Mungkin sebuah pencapaian atas proses dan cerita yang panjang. Atau mungkin kumpulan dari beberapa pengharapan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Mimpi adalah awal dari sebuah pengharapan, pilihan, dan kesempatan-kesempatan yang akan kita ciptakan. Kita hidup diantara pilihan dan mimpi-mimpi yang telah usai, sebagian sedang berjalan, dan sebagian lagi sedang menunggu.

Mengapa harus ada kata ‘usai’ dalam sebuah mimpi?
Apakah mimpi harus ada kata akhir? Ataukah sebaliknya?

Mimpi adalah sebuah awal untuk pengharapan, awal cerita yang sedang berjalan, dan awal cerita yang sedang menunggu diperankan. Mimpi yang telah usai adalah pengharapan dan kesempatan di masa lalu yang telah selesai diperankan oleh pemerannya. Entah itu karena meninggalkan ruang bulat ini kemudian pergi ke ruang lain, atau sebuah mimpi yang gagal diperankan dengan baik. Hidup memiliki banyak kemungkinan, yang terlahir dari pilihan.

Mimpi yang telah usai adalah sebuah fluktuasi hipotesa, dasar pembelajaran dari analogi-analogi hari yang telah berlalu, untuk menciptakan spesies mimpi yang baru, untuk semua pengharapan dan kesempatan baru di masa mendatang.

Aku mengambil kesimpulan bahwa, “Kita hidup diantara pilihan dan mimpi-mimpi yang telah usai, sebagian sedang berjalan, dan sebagian lagi sedang menunggu.”

Aku akan terus bermimpi, menciptakan pengharapan dan kesempatan yang baru di setiap seperdetiknya waktu berjalan. Aku akan menciptakan ruang pemimpiku sendiri, melalui hati, akal pikiran dan harapan yang bersih suci, anugerah dari Sang Maha Kuasa.
Aku akan terus bermimpi dan kemudian bersyukur...

Senin, 06 Februari 2017

Biarkan Aku Sendiri



Biarkan aku sendiri dengan malam-malam sendu ini, agar aku bisa lebih produktif, menghabiskan waktu dengan imajinasi dari sisa-sisa mimpi yang terluka. Dari sisa-sisa pengharapan yang kemudian tidak pernah mendapat kesempatan.

Tidak pernah ada kesempatan baik untuk menunjukkan sebuah ketulusan. Mungkin ada, namun hanya angin sejuk semata. Bukan juga sesuatu hal yang berarti, apalagi berharga untuk kau jaga. Terkadang perasaan memang terdengar sedikit aneh.

Aku menyukai beberapa warna daun yang layu karena ia mampu bertahan. Mempertahankan warna indahnya di awal fajar, untuk menyenangkan hati para penikmat keindahan. Bertahan dalam proses waktu yang rumit, kemudian perlahan mulai meragu. Senja mulai menenggelamkan beberapa pengharapan dan kesempatan-kesempatan yang pernah terluka. Perlahan warna itu memudar dan menghilang. Kemudian layu, rapuh, terhempas oleh angin. Setidaknya ia pernah indah saat awal fajar.

Sendiri itu menenangkan, jika mampu menempatkannya pada posisi dan sudut pandang yang tepat. Sendiri itu adalah ketika pikiran, hati, dan jiwa mampu berdamai dalam diam, menciptakan suasana sendu, dan kemudian menikmatinya.  

Maka biarkan aku sendiri

Dan menyendiri

Sabtu, 04 Februari 2017

Mengenal Waktu dan Berdamai Dalam Diam



Semua ada masanya, anak-anak kecil akan tumbuh dewasa, daun yang hijau akan berubah menjadi warna coklat kemudian layu dan jatuh. Namun roda tetap berputar pada porosnya, hidup terus berjalan seiring menuanya bumi.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi setelah hari ini, bahkan setelah detik ini berlalu. Maka kita mengenal Sang Fajar dan Senja. Dua proses perubahan waktu yang setiap hari kita ketahui.

Waktu adalah sebuah rangkaian kompleks yang memiliki unsur proses yang sedang berlangsung, proses pada saat tertentu, kesempatan-kesempatan dalam hidup, dan pergerakan durasi setiap detik, menit, dan jam yang telah ditentukan. Waktu akan berjalan seiring dengan pilihan-pilihan yang kita proses dan pilih setiap harinya. Maka lahirlah kesempatan dan beberapa kenangan.

Waktu telah ditentukan untuk masing-masing warna dalam hidup. Ada saat ketika kita tertawa, bahagia, kemudian menangis, kehilangan asa, lalu berubah menjadi sosok yang menyedihkan. Waktu juga telah menentukan kapan saatnya untuk bangkit dan belajar dari kesalahan atau kesempatan yang kita lewatkan.

Hidup adalah tentang pembelajaran dan mengerti satu sama lain.
Berdamailah dalam diam.

Sabtu, 26 November 2016

Analogi Hari



Benar ketika banyak orang yang mengatakan, "Usaha tidak pernah mengkhianati hasil". Tapi bagaimana jika hasil tidak sependapat dengan 'harapan' disaat usaha itu dilakukan?

Ketika ada 2 kejadian yang memiliki banyak kemungkinan, dan salah satu contohnya adalah ketika kejadian kedua (2) disebabkan oleh adanya kejadian pertama (1), ketika hubungan sebab-akibat, kemudian akibat-sebab juga menjadi sebuah kemungkinan.

Tidak ada yang mustahil bagiNya, dan benar ketika manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, dan pada akhirnya Allah menentukan cara terbaikNya.

Semenjak Itu



Semenjak itu, aku mulai benar-benar menyukaimu. Aku merasakan satu hal yang aku anggap itu menyenangkan, membahagiakan diriku secara tiba-tiba. Iya benar, kau datang secara tiba-tiba dan memberiku secercah harapan putih yang aku anggap sesuai keinginanku.

Awalnya semua berjalan baik, mungkin indah. Sedikit banyak aku berusaha untuk membuatmu selalu tertawa bahagia setiap harinya. Iya setiap hari, tapi pada dasarnya aku hanya manusia biasa. Kau akan mengerti. Kita bertemu, berkenalan, dekat dengan baik sampai saat ini adalah atas ijinNya. Sungguh aku sangat berterima kasih, telah mengenalmu, melihatmu, walaupun hanya untuk sesaat dalam hidupku.

Semenjak kita pertama kali bertemu, aku telah banyak menaruh harapan, mungkin reaksiku terlalu cepat, atau ceroboh, atau apalah itu aku juga tidak mengerti. Mungkin ini sebuah anekdot kecil tentang cinta, tentang perasaanku sejujurnya. Bagaimana tentang perasaanmu? Aku bahkan tidak tahu sama sekali. Pandanganku mulai kacau semenjak itu.

Aku hanya terlalu cepat melihat kesempatan dan harapan, hingga aku lupa bagaimana tentang perasaanmu padaku. Bahkan aku belum sempat menanyakannya padamu, atau mengatakan tentang perasaanku. Aku sadar semua berfluktuasi begitu cepat, semenjak itu.
Semenjak itu, semua sudah tak sama. Aku mulai sekarat, dimakan harapan dan mungkin cinta.

Semenjak itu, aku sudah mencintaimu.

Kamis, 09 April 2015

Filantropi Dalam Cerita



Aku mulai menulis sebuah cerita anekdot kecil yang sederhana
Diatas lembaran bersih putih
Dari sebuah buku yang aku harap tidak bersifat fana
Tak banyak kata yang dapat ku tulis
Tak banyak cerita yang dapat aku ceritakan
Tapi mengertilah satu hal yang selalu melekat erat di hati
Bahwa hati dan raga ini akan selalu menjadi milikmu
Bahwa anugerah perasaan yang diberikan oleh Tuhan ini selalu menyayangimu

Maaf ketika aku hilaf dengan kesalahan, buruk terhadap sikap dan terbiasa diam
ketika raga dan sikap ini tidak seperti apa yang engkau harapkan
Dan segala keterbatasanku..kekurangan yang telah diciptakan sang maha kuasa
Disaat itulah kamu harus mengerti dan mendewasakan diri, tegurlah aku
Hukumlah aku dengan cinta dan kasih sayangmu, begitu juga denganku
Karena hidup itu tak selamanya memiliki pelangi yang selalu bersinar cerah mewarnai dunia
Terkadang terang, terkadang juga gelap

Kita adalah apa yang selalu kita pikirkan, kita harapkan, dan kita cita-citakan
Biarkan janji dan kasih sayang tulus memegang erat kisah kita sampai nanti
Biarkan mereka mengalir seperti layaknya air jernih yang tenang
Di sebuah sungai dengan pepohonan yang rindang dan damai
Jalani setiap tanda tanya kehidupan dengan keyakinan ketika kita selalu bersama
Ketika kita selalu percaya dengan cinta
Semuanya akan baik-baik saja dan indah ketika waktunya tiba.












Rabu, 01 April 2015

Jendela Tubuh



Saat tumbuh menjadi dewasa, saat semua pilihan menjadi nyata
Aku tau hidup ini sangat indah
Perlahan melangkah dan berlari mengejar ambisi
Ku lihat semuanya berbeda, berfluktuasi menjadi suatu keputusan yang harus dipilih
Lantas aku terus percaya dengan keyakinanku

Kemudian aku berpikir tentang sebuah ruang lingkup kecil yang penuh dengan cerita, kenangan
dan orang-orang yang selalu hadir
disanalah tubuh dan jendela ini selalu bersemayam merasa nyaman, tentram
Merekalah sebuah rumah
Merekalah sebuah keluarga
Sesuatu yang selalu melengkapi segala kekurangan hidup
Tak ada tempat seindah rumah, tak ada tempat seindah disana
Datang dan menyapa lirih memanggil namaku

Sebagai pelengkap hidup sekaligus penyemangat cita-cita
Mereka selalu hadir sampai nanti waktunya tiba
Dan jendela tubuh ini yang akan selalu melihat
Membantu disaat aku kehilangan arah dan tujuan
Memegang erat ketika aku terjatuh
Aku rasakan hangatnya kasih sayang, damainya cinta
Semua ini sudah lengkap, bersyukur kepada yang maha kuasa
Dan berkat mereka serta jendela tubuh ini aku tetap berjalan.